Nasib Radio di Era Digital Sekarang
Nama : Muhammad Khatomi Arrizal
NIM
: 302190104
KPI
D
Radio merupakan salah
satu sarana komunikasi pada zaman dahulu hingga saat ini, namun saat ini
keberadaan radio mulai terancam karena saat ini kita telah memasuki era digital
yang dimana komunikasi saat ini didominasi oleh alat-alat digital. Lebih dari
sembilan puluh tahun setelah stasiun radio pertama di dunia didirikan, radio
masih menjadi media massa yang paling banyak dinikmati, paling luas
jangkauannya, dan fleksibel. Di perdesaan, radio bahkan sering kali menjadi satu-satunya
media massa yang tersedia.
Keunggulan lainnya adalah
rendahnya biaya produksi dan distribusi membuat radio dapat menjangkau dunia
dari perspektif lokal dan dapat merespons kebutuhan akan informasi lokal.
Dibandingkan dengan media massa lainnya, radio berbicara dalam bahasa dan
dengan aksen masyarakat lokal. Programnya mencerminkan kepentingan lokal dan dapat
memberikan kontribusi untuk perkembangan budaya, ekonomi, dan komunitas lokal
itu sendiri.
Sejarah di radio di
Indonesia menunjukkan bahwa media ini mempunyai peran besar dalam berdirinya
republik ini. Gema Proklamasi ditangkap di seantero Nusantara melalui gelombang
radio yang berpusat di Bandung, tepatnya di Palasari, Dayeuhkolot. Naskah
proklamasi dibacakan pada pukul 19.00 tanggal 17 Agustus 1945 oleh Sakti Alamsjah,
didampingi oleh Sam Amir, R.A. Darya, dan Ny. Odas Sumadilaga.
Penghapusan Departemen
Penerangan oleh Pemerintah Presiden Abdurahman Wahid dijadikan momentum
perubahan radio dari milik pemerintah menjadi Lembaga Penyiaran Publik (LPP)
berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 37 tahun 2000 yang ditandatangani
Presiden RI pada 7 Juni 2000. Saat ini, RRI memiliki 52 stasiun penyiaran dan
stasiun penyiaran khusus yang ditujukan ke luar negeri dengan didukung oleh
8.500 karyawan. Kecuali di Jakarta, RRI di daerah hampir seluruhnya
menyelenggarakan siaran dalam tiga program yaitu, Programa daerah yang melayani
segmen masyarakat yang luas sampai pedesaan, Programa Kota (Pro II) yang melayani
masyarakat di perkotaan, dan Programa III (Pro III) yang menyajikan berita dan
informasi kepada masyarakat luas.
Itulah sedikit kisah
dari salah satu alat komunikasi yang sangat bersejarah ini, dan saat ini radio
mulai ditinggalkan karena dianggap kuno oleh sebagian masyarakat. Karena saat
ini sudah memasuki era digital, bukan era analog lagi. Karena itulah para
jurnalis radio juga harus memutar otak untuk mengatasi problematika radio yang
terjadi saat ini. Tidak boleh egois, kita harus mengikuti perkembangan zaman
agar tidak dianggap kuno oleh manusia zaman modern.
Berbeda dengan media
cetak, radio masih dianggap sebagai media alternatif di tengah meningkatnya
arus digitalisasi. Perkembangan teknologi baru seharusnya bisa memperluas
kemampuan radio sebagai media massa dalam menjangkau khalayak. Teknologi
streaming pada radio Internet memperluas jangkauan pemancar mereka secara
geografis. Selain itu, inovasi menggunakan interaktivitas internet juga
meningkatkan komunikasi sosial interaktif radio.
Salah satu solusi yang
bisa dilakukan adalah dengan menggandakan penyebaran siaran yaitu salah satunya
menggunakan streaming youtube atau web, dan satunya lagi menggunakan media
analog agar seimbang antara kaum digital dan analog. Saat ini sudah marak
dengan radio digital yang bisa dinikmati oleh banyak orang.
Digitalisasi seharusnya
justru membuat radio lebih mudah dan murah dibandingkan dengan perangkat
teknologi lainnya, terutama di Indonesia yang infrastruktur internet dan teleponnya
belum merata. Tantangan geografis Indonesia dengan jumlah populasi sebanyak 200
juta orang tersebar di 17.000 pulau mengingatkan pentingnya peran radio bersanding
dengan media baru dalam mewujudkan kesenjangan informasi di tanah air.
Sebagai pelaku media
mainstream kita juga harus bisa mengikuti zaman, agar semakin maju zaman kita
tidak semakin tertinggal.
Komentar
Posting Komentar